Total Tayangan Halaman

Rabu, 16 Maret 2016

ISu Miring Seputar Ahok Yang beredar Di Grup WhatsApp Jakarta

Kiriman Dede budi Hartoyo di group wa

Dari Miraom :

Pagi tadi Kedutaan Besar Kerajaan Belgia menyelenggarakan “Cleantech Summit” di Pullman Grand Ballroom yang megah. Hadir Adipati Agung Putri Astrid Jos├ęphine-Charlotte Fabrizia Elisabeth Paola Marie, sebagai wakil resmi kakaknya, Raja Phillipe. Beliau didampingi oleh wakil perdana menteri Belgia, menteri luar negeri, menteri pekerjaan umum, menteri ekonomi dan banyak pejabat tinggi Belgia lainnya.

Dari pihak Indonesia, sambutan diberikan oleh Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar dan Gubernur DKI-Jakarta Basuki Tjahaya Purnama. Dilanjutkan dengan presentasi oleh belasan pakar dan tokoh-tokoh industri teknologi Belgia di bidang energi terbarukan, konsep induk tentang tata-kota hijau, pengendalian polusi, limbah dan air sebagai sumber kehidupan.

Ahok segera menarik perhatian utama 150-an hadirin, pejabat, utusan lembaga negara dan akademisi dari berbagai universitas. Ahok kelihatan canggung ketika memasuki ruangan. Selain sudah bungkuk, Ahok masih sedikit membungkuk-bungkuk, ketika menyalami petinggi-petinggi di barisan tempat duduk depan. Ah ....., orang nomor satu DKI ini terkesan lugu dan bersahaja. Tidak ada gaya seorang pembesar yang berwibawa. Ia dipersilahkan duduk di sebelah kiri Putri Astrid.

Ketika tiba giliran Ahok ke podium memberikan kata sambutan, ia mengawali dengan bahasa Indonesia tanpa segala basa basi panjang dan tanpa doa-doa sebagaimana lazimnya pejabat Indonesia. Langsung to the point menyampaikan salam kepada ibu menteri, para tamu kenegaraan dari Belgia dan hadirin. Lalu menyampaikan penghargaan atas diselenggarakannya summit yang penting ini. Tapi loh ....., kog bahasa Indonesia, padahal 20% hadirin adalah orang asing.

Tiba-tiba Ahok menyambung pidatonya dalam bahasa Inggris yang lancar, tanpa teks. Menarik, gayanya kayak pendeta Kristen, yang mampu menyihir pendengarnya. Berkali-kali orang bertepuk tangan spontan. Ia menjelaskan summit ini penting untuk membuka wawasan yang up to date. Namun masalah terbesar Jakarta saat ini bukanlah kajian ilmiah atas masalah-masalah yang sudah bertumpuk-tumpuk, sampai semuanya bingung mau mulai darimana. Semua orang tidak sabar. Semuanya dianggap paling gawat dan harus lebih dulu ditangani. Apapun yang dilakukan, pasti ada yang menyalahkan. Tetapi Ahok menegaskan, ia tahu apa yang harus ia mulai. Segala jenis kajian atas masalah sebenarnya sudah tersedia. Demikian pula sudah tersedia banyak contoh apa yang dikerjakan di berbagai kota metropolitan modern di dunia. Jadi bukan soal teknis atau metode yang menjadi pertanyaan pelik. Yang harus ia lakukan adalah segera memulai, bergerak dan memastikan bahwa keputusan sungguh dijalankan dan sesuai rencana. Masalahnya, banyak yang tidak mau ada perubahan. Tantangan terberat, ia harus memastikan bahwa akal sehat memimpin di semua pekerjaan. Tidak boleh ada kepentingan yang mengalahkan akal sehat. Ahok mengakhiri sambutan singkatnya dengan pesan, bahwa ia menugaskan para staf ahlinya untuk mengikuti summit ini, mendalami dan nanti menjabarkan kepadanya sebagai alternatif kebijakan yang paling baik diterapkan di ibukota Jakarta. Ia minta maaf tidak bisa berlama-lama mengikuti summit, sebab tugasnya saat ini bukan belajar, melainkan segera membuat keputusan, agar setiap hari tidak tersia-sia tanpa ada tindakan, sementara Jakarta sudah terlanjur sarat masalah yang tidak bisa ditunda penanganannya.

Harus diakui, bahwa pidato Ahok merupakan orasi paling memukau sepanjang summit. Bukan karena ilmiahnya, bukan karena pidato yang menggebrak, melainkan isinya memang aktuel, mengena dan ia menyampaikan apa adanya, selagi iapun sedang menjadi puncak pergunjingan dalam persaingan cagub 2017. Keluar ruang, Ahok diserbu banyak orang. Ia meladeni ngobrol santai. Orangpun pada berani bertanya dan bicara macam-macam. Jawabannya lugas dan tegas, seperti sering terlihat di TV. Orang nomor satu Jakarta ini naik mobilnya, minibus berplat hitam biasa, tanpa adjudan dan tanpa pengawal. Hanya seorang supir yang menemaninya.

Orang-orang jelas jatuh simpati. Serasa bukan berhadapan dengan pejabat, melainkan seorang sahabat yang benar-benar jujur dan berhati bersih. Ada yang bergumam, Jakarta rugi besar kalau Ahok sampai batal jadi gubernur 2017 nanti. Ada pula yang berpendapat, alangkah bodohnya PDIP, meninggalkan Ahok berarti matahari tenggelam bagi partai usang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERGABUNG BERSAMA BLOGGER DAN E-P MARKETING PALING TOP

@tokoarb - WEBSTA